Jumat, 15 Juni 2012

Penyalahgunaan Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja

Kata Pengantar


Allhamdullillahirobbil’allamin, segala puja dan puji bagi Allah SWT, zat penguasa seluruh alam jagat raya. Teriring pula salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rosullullah Muhammad SAW, amin.
Sebagai wujud untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan  keterampilan siswa SMAN 1 Kota Sukabumi.
Kami menyusun Makalah ini berdasarkan fakta yang kami dapat sebagai sumber – sumber dan literature – literature yang di jamin kebenarannya. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang ikut membatu untuk terselesainya makalah ini.
Kami menyadari dalam pebuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk keempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.
Demikian petingnya mata pelajaran Ekonomi, maka perlu diadakan makalah yang mampu merangsang kretivitas para siswa.
Semoga kehadiran makalah ini dapat member manfaat bagi kita semua dalam menjalani aktifitas belajar mengajar, dan dapat menambah pengetahuan anda.



Sukabumi, 12 –  06  – 2012

                                                                                                                              Penyusun


                                                                                                                Sinta Chandrasari (10.1)



BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir sudah tidak ada yang menggunakannya dengan benar. Malah sedikit sekali remaja yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar. Selang waktu yang berjalan, pengguna Bahasa Indonesia dengan benar telah di geser dengan bahasa-bahasa tidak di kenal (asing). Dikarenakan datangnya penduduk luar negeri ke dalam negeri, yang membaur Bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Sekarang, bahasa-bahasa di Indonesia telah banyak yang beredar di umum. Salah satu faktor yang menggunakan bahasa asing (tidak di kenal) untuk bahasa individu (sendiri). Bahasa yang digunakan sekarang adalah bahasa yang mudah di mengerti bagi orang yang membuatnya.
Bahasa gaul di Indonesia pada masa ini mungkin bukanlah suatu hal yang baru dan aneh bagi kita. Pada jaman ini muda-mudi lebih suka memakai bahasa yang gaul dari pada bahasa indonesia yang baik dan benar. Padahal kita sekarang sedang berada di Indonesia, mengaku orang Indonesia, dan mengerti bahasa Indonesia. Namun semua itu masih belum mampu untuk menjadi alasan bagi mereka untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Terlepas dari alasan-alasan yang mungkin disengaja ataupun tidak disengaja, bahasa gaul ini bahkan bisa sangat mendarah daging di suatu daerah, misal Daerah Ibu Kota Jakarta. Kita semua tau, Jakarta sudah lama menjadi trendsetter banyak muda-mudi dalam berbahasa gaul.
Fenomena ini ternyata tidak hanya merambah daerah metropolitan, bahkan Kota Sukabumi pun ikut merasakan atmosfir fenomena ini. Bahasa gaul biasanya dibawa oleh orang jakarta. Menurut survey yang saya lakukan, dari 10 orang yang berasal dari daerah ibu kota, ada 9 orang yang menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa kesehariannya.

B.    Rumusan Masalah
Makalah yang akan di bahas dalam makalah ini adalah :
ü  Apakah yang menebabkan remaja menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa indonesia EYD
ü  Contoh bahasa gaul manakah yang mempengaruhi  kesalahan dalam mengucapkan bahasa Indonesia dengan benar
ü  Solusi apakah yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperbaiki pengucapan bahasa Indonesia dengan tepat



C.     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
ü  Mengetahui penyebab penyalahgunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja
ü  Mengetahui contoh bahasa gaul yang mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja
ü  Mengetahui solusi yang tepat untuk mengatasi penyalahgunaan penggunaan Bahasa Indonesia dikalangan remaja
















BAB II
ISI

§  Penyebab Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Kesalahan pengunaan bahasa Indonesia sehari hari pada kalangan remaja umum nya menggunakan bahasa yang salah atau menyimpang. Dan sedikit sekali orang yang menggunakan bahasa indonesia yang baku ata benar. Kesalahan ini di sebabkan oleh beberapa banyak faktor diantara nya lingkungan, budaya (kebiasaan), pendidikan yang salah, mungkin  juga masuknya budaya asing dan mencampurnya dengan bahasa indonesia agar terihat menjadi mudah bagi yang menciptakan nya. Lingkungan sangat mempengaruhi penggunaan bahasa sehari – hari kita, di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan bermain, dan forum – forum lain nya, banyak sekali pengucapan – pengucapan yang salah dan menjadi kebiasaan di kalangan remaja. Biasanya saya sebagai anak remaja juga merasakan bagaimana penggunaan bahasa yang salah ini sudah menjadi kebiasaan di dalam Kehidupan kita sehari – hari. Misalnya dengan mencampurkan bahsa inggris dengan bahasa indonesia dan dicampurkan lagi dengan bahasa betawi, contoh “gua lagi OTW nih, kamu dimana ?”. Menurut mereka, bila orang asing saja melakukan hal ini, berarti hal ini sudah mendunia dan keren jika dilakukan. Bisa dikatakan ini adalah faktor psikologi.
Ada juga karena bahasa campur lebih mudah diucapkan dan lebih familier. Tidak perlu belajar kusus untuk bisa berbahasa campur gaul ini.
Namun menurut saya pribadi yang pernah mengajar bahasa indonesia di ponpes ini, faktor psikologilah yang paling mempengaruhi pencmpuran bahasa asing dengan bahasa Indonesia.


§  Contoh macam-macam bahasa saat ini :

·         Bahasa Gaul
·         Bahasa Prokem (preman)
·         Bahasa G
·         Bahasa Gay



§  Undang-Undang Kebahasaan Indonesia
Era globalisasi...
            Dua kata inilah yang membuat orang lupa akan bahasanya sendiri akibatnya bahasa Indonesia menjadi tidak bernyawa. Masyarakat bahkan para Petinggi Negara bila mendengar dua kata ini menjadi berubah bahasanya menjadi sekian derajat. Dulunya bahasa yang mereka gunakan tidak separah-parah amat, sehubungan dengan adanya era globalisasi bahasanya menjadi luntur karena bahasa asing yang datang ke Indonesia. Kita lihat contoh seperti yang dilakukan oleh Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono.
Ketika Anda baca di koran, sekilas melihat tulisan open house. Banyak sekali kata itu di media cetak ketika hari Raya Iedul Fitri tiba. Open house yang dilaksanakan di Istana negara untuk bertatap muka secara langsung dengan masyarakat Indonesia. Beliau sendiri pernah mendapatkan penghargaan sebagai pengguna bahasa yang baik dan benar (Kompas, Jumat, 28/10). Ternyata era globalisasi yang sederhana itu mempunyai makna yang sangat berarti dan sangat luas sehingga bisa menjadi penyalahgunaan bahasa.
Adanya era globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai bahasanya sendiri sebab bahasa Indonesia sudah menjadi bagian dari hidup kita seperti bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa atau bahasa Nasional, bahasa Indonesia merupakan jati diri kita atau ciri khas sebagai bangsa Indonesia. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan Bahasa Menunjukkan Bangsa.
Filipina, Jepang, dan Perancis merupakan negara yang mencintai bahasanya sendiri. Sangat berbeda jauh sekali dengan negara Indonesia, walaupun adanya era globalisasi mereka tidak terpengaruh karena mereka mempunyai kredibilitas yang sangat tinggi.
Kita ambil contoh seperti di negara Perancis.
Awal April 2003, di Hotel Flat de Douai, Paris. Hotel yang harga inapnya setingkat dengan Santika di Yogyakarta. Alif Dansya Munsyi bertanya dalam bahasa Inggris yang belepotan kepada resepsionisnya. Resepsionis tersebut merupakan orang Perancis asli. Ia benar-benar “tidak mau” menjawab pertanyaan beliau dengan bahasa Inggris. Ia berkata dengan amat percaya diri memakai bahasa Perancis (Bahasa Menunjukkan Bangsa).
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Perancis merupakan negara yang sangat istimewa. Lihatlah nama hotel yang ditempati beliau. Itulah buktinya bahwa mereka mencintai bahasanya. Seandainya negara Indonesia seperti negara Perancis yang mencintai bahasanya, maka masyarakat Indonesia tidak lagi sok nginggris.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa era globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai bahasanya sendiri. Ternyata di bahasa oleh ahli-ahli bahasa yang terkenal dalam seminar di Jakarta yang membahas. Mencari jalan keluar dari kondisi Departemen Pendikan Nasional tengah menyusun Rancangan Undang-Undang Kebahasaan. Rancangan itu berfungsi untuk melindungi Undang-Undang penggunaan bahasa Indonesia, terutama dalam situasi formal.
Sedangkan, untuk penggunaan bahasa sehari-hari di dalam masyarakat tidak diatur. Bahasa gaul, prokem, slang, dan sebagainya tidak terlalu dipermasalahkan sepanjang tidak dipakai dalam situasi formal. Penggunaan variasi bahasa-bahasa tersebut selalu ada di dalam masyarakat yang berkembang. Penggunaan bahasa itu baru dirisaukan jika digunakan oleh media atau dalam situasi formal.
Rancangan Undang-Undang tersebut mempunyai cakupan yang terkait dalam aspek kenegaraan seperti pembuatan nota kesepakatan, dokumen resmi negara, surat resmi, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, pertemuan formal, nama lembaga pemerintah / swasta, geografi karya ilmiah, nota kesepahaman dalam dan luar negeri.
Cakupan lainnya meliputi nama bangunan, kawasan permukiman, informasi petunjuk produk, iklan juga akan diatur menggunakan bahasa Indonesia. Terkecuali yang merupakan lisensi dari luar. Demikian juga dengan papan petunjuk, slogan, petunjuk lalu lintas.
Rancangan perundangan itu juga akan mengatur penguasaan bahasa Indonesia bagi orang asing dan pengantar seleksi tenaga kerja (Kompas, 22/8).
Bahasa Indonesia itu penting diatur oleh Undang-Undang dikarenakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Bila bahasa Indonesia tidak diatur oleh Undang-Undang, masyarakat akan seenaknya menggunakan bahasa yang mereka anggap itu gaul
2. Penggunaan bahasa Indonesia yang baku harus digunakan pada situasi formal
Menurut saya, sanksi-sanksi yang harus diberlakukan oleh Undang-Undang yaitu ada dua jenis di antaranya:
1. Sanksi ringan
• Tidak boleh berbicara selama satu hari
• Membayar denda sekitar Rp 20.0000.000,00
2. Sanksi berat
Hukuman penjara selama 3,5 tahun
Mengatur penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan beberapa faktor yaitu, yang pertama dialek daerah masing-masing yang sangat melekat tiap individu dan yang sekarang tengah berkembang di Indonesia adalah penggunaan bahasa gaul. Sulitnya melepaskan cara berbahasa ini diikuti dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar maka akan sangat sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan Undang-Undang Kebahasaan ini dalam masyarakat.
Maka menurut saya sebaiknya tujuan pemerintah untuk mengatur penggunaan bahasa ini dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya memulai penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam lingkungan pendidikan dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah. Saya maksudkan di sini, kita melihat bahwa dalam lingkungan kampus mahasiswa yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku sangat jarang bahkan tidak ada, oleh sebab itu Undang-Undang Kebahasaan ini sebaiknya mulai diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan.
Perlu ditekankan pada pemerintah bila ingin membuat Undang-Undang Kebahasaan yaitu Pemerintah sendiri pun harus mengubah bahasanya bila ingin membentuk Rancangan Undang-Undang Kebahasaan. Jangan sampai pemerintah malah menghancurkan bahasa Indonesia.
Pemerintah pun harus konsekuen terhadap Undang-Undang ini. Bagaimana tidak, apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini tidak berjalan lancar. Undang-Undang Kebahasaan yang di rancang dari bulan Agustus ternyata belum kelar-kelar. Eh... pemerintah malah membuat Undang-Undang baru yaitu Undang-Undang Guru. Memang sih tidak masuk akal dimasukkan di sini.
Menurut saya yang penting didahulukan yaitu Undang-Undang Kebahasaan jadi saya mengnginkan pemerintah bahwa pemerintah harus selalu mengerjakan pekerjaan yang belum selesai terpecahkan sebab bila ditunda-tunda lagi penggunaan bahasa Indonenglish akan semakin marak atau akan semakin banyak yang sering menggunakannya.
§  Bahasa prokem Indonesia
Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.
Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).
Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T diubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.
Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.
Sejarah
Bahasa prokem merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam pergaulan anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai 'bahasanya para bajingan atau anak jalanan' disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman.
Saat ini bahasa prokem telah banyak terasimilasi dan menjadi umum digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media-media populer seperti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan seringkali pula digunakan dalam bentuk pengumuman-pengumuman yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja populer. Karena jamaknya, kadang-kadang dapat disimpulkan bahasa prokem adalah bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, kecuali untuk keperluan formal. Karenanya akan menjadi terasa 'aneh' untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia formal.
Bahasa prokem senantiasa berkembang. Banyak sekali kata-kata yang menjadi kuno atau pun usang disebabkan kecenderungan dan perkembangan zaman.
Penggolongan
Tiada penggolongan formal dari bahasa prokem, kecuali barangkali bahasa tersebut termasuk sebagai bagian ataupun cabang dari bahasa Indonesia.
Distribusi geografis
Bahasa prokem umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa prokem bergantung pada kota tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai contoh, di Bandung, Jawa Barat, perbendaharaan kata dalam bahasa prokemnya banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa Sunda.
Pemakaian resmi
Bahasa prokem bukanlah bahasa Indonesia resmi meskipun bahasa ini digunakan secara luas dalam percakapan verbal dalam kehidupan sehari-hari.contoh bahasa : dulu menggunakan bahasa baku kalau sekarang memakai bahasa elu gua
Pengucapan
Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata yang meminjam dari bahasa lain seperti bahasa Inggris ataupun Belanda diterjemahkan pengucapannya, contohnya, 'Please' ditulis sebagai Plis, dan 'Married' sebagai Merit.
Untuk contoh lainnya, lihat juga (Inggris) SEASite guide to pronunciation of Indonesian.
Teks tebal== Tata bahasa == Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahasa formalnya (bahasa Indonesia), dalam banyak kasus kosakata yang dimilikinya hanya merupakan singkatan dari bahasa formalnya. Perbedaan utama antara bahasa formal dengan bahasa prokem ada dalam perbendaharaan kata.
Banyak orang asing yang belajar Bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing atau juga menggunakan bahasa prokem.
Contoh:
Bahasa Indonesia
Bahasa prokem (informal)
Aku, saya
Gue, gua (ditulis pula gw)
Kamu
Lu, lo (ditulis pula lw)
Penatlah!
Capek deh!
Benarkah?
Emangnya bener?
Tidak
Enggak
Tidak peduli
Emang gue pikirin!
Bahasa prokem Tegal
Salah satu daerah yang memiliki bahasa prokem unik adalah Kota Tegal dan sekitarnya. Awal penggunaan bahasa prokem di Tegal adalah sejak perang melawan penjajahan Belanda. Laskar yang bergerilnya menggunakan bahasa sandi yang setelah era kemerdekaan masih tetap dipergunakan sebagai bahasa prokem hingga kini, di samping dialek Tegalan.
Bahasa prokem Tegal tidak menggunakan satu rumusan. Ada sebagian kata yang sekadar mengadopsi dari bahasa Arab seperti harem menjadi kharim (istri), distribusi fonem, seperti bapak/bapa menjadi jasak, wadon (perempuan) menjadi tarok. Ada pula yang menggunakan variabel nama untuk seseorang yang sering jadi bahan olokan, obyek penderita, seperti Dalban, Waknyad, atau Mardiyah. Lantaran keragaman rumusan itulah mengakibatkan tidak semua orang (pendatang) dapat memahami bahasa gaul Tegal.
Jika mengacu pada contoh di atas, ada kosa kata yang tidak jelas perumusannya, seperti berikut ini:
  • Jakwir berasal dari kata batir (teman), semestinya dilafalkan (ditulis) jawir.
  • Jagin, berasal kata balik (pulang), namun sering diucapkan sebagai jegin
Partikel yang sering dipakai
Sih, nih, tuh, dong, merupakan sebagian dari partikel-partikel bahasa prokem yang membuatnya terasa lebih "hidup" dan membumi, menghubungkan satu anak muda dengan anak muda lain dan membuat mereka merasa berbeda dengan orang-orang tua yang berbahasa baku. Partikel-partikel ini walaupun pendek-pendek namun memiliki arti yang jauh melebihi jumlah huruf yang menyusunnya. Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana pada kalimat tersebut diucapkan.
Deh/ dah
Deh/ dah asalnya dari kata sudah yang diucapkan singkar menjadi deh/dah atau udah. Namun dalam konteks berikut, deh/dah ini sebagai penekanan atas pernyataan.
  • Bagaimana kalau ...
Coba dulu deh. (tidak menggunakan intonasi pertanyaan) - Bagaimana kalau dicoba dahulu?
Besok pagi aja deh. - Bagaimana kalau besok pagi saja?
  • Saya mau ...
Lagi deh. - Saya mau lagi.
Yang biru itu deh. - Saya mau yang biru itu saja.
Aku pergi deh. - Saya mau pergi dahulu.
Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri.
Dong
Partikel dong digunakan sebagai penegas yang halus atau kasar pada suatu pernyataan yang akan diperbuat.
  • Tentu saja ...
Sudah pasti dong. - Sudah pasti / Tentu saja.
Mau yang itu dong - Tentu saja saya mau yang itu.
  • Kata perintah atau larangan yang sedikit kasar / seruan larangan.
Maju dong! - Tolong maju, Pak/Bu.
Pelan-pelan dong! - Pelan-pelan saja, Kak/Dik.
Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri.
Eh
  • Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua.
    • Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa?
    • Eh, ke sini sebentar. - Pak/Bu, ke sini sebentar.
    • Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung.
  • Membetulkan perkataan sebelumnya yang salah.
    • Dua ratus, eh, tiga ratus. - Dua ratus, bukan, tiga ratus.
    • Biru, eh, kalau tidak salah hijau. - Biru, bukan, kalau tidak salah hijau.
  • Mengganti topik pembicaraan
    • Eh, kamu tahu tidak ... - Omong-omong, kamu tahu tidak ...
    • Eh, jangan-jangan ... - Hmm... jangan-jangan ...
  • Berdiri sendiri: menyatakan keragu-raguan
    • Eh...
Selain 'eh' sebagai sebutan untuk orang kedua, partikel ini biasanya tidak dapat dipakai di akhir kalimat lengkap.
Kan
  • Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk meminta pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan).
Bagus kan? - Bagus bukan?
Kan kamu yang bilang? - Bukankah kamu yang bilang demikian?
Dia kan sebenarnya baik. - Dia sebenarnya orang baik, bukan?
  • Jika dirangkai dalam bentuk "kan ... sudah ..." menyatakan suatu sebab yang pasti (pernyataan).
Kan aku sudah belajar. - Jangan khawatir, aku sudah belajar.
Dia kan sudah sabuk hitam. - Tidakkah kamu tahu bahwa dia sudah (memiliki tingkatan) sabuk hitam.
  • Berdiri sendiri: menyatakan dengan nada kemenangan "Lihatlah, bukankah aku sudah bilang demikian"
Kan...
Kok
  • Kata tanya pengganti 'Kenapa (kamu)'
Kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat?
Kok diam saja? - Kenapa kamu diam saja?
Kok dia mukanya masam? - Kenapa dia mukanya masam?
Kok aku tidak percaya kamu? - Kenapa aku tidak dapat mempercayaimu?
  • Memberi penekanan atas kebenaran pernyataan yang dibuat.
Saya dari tadi di sini kok. - Saya mengatakan dengan jujur bahwa dari tadi saya ada di sini.
Dia tidak mencurinya kok. - Saya yakin bahwa dia tidak mencurinya.
  • Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
Kok???
Lho/Loh
  • Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan kata tanya. Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi.
Lho, kok kamu terlambat? - Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran)
Loh, apa-apaan ini! - Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan ekspresi terkejut/marah)
Lho, aku kan belum tahu? - Aku sebenarnya belum tahu. (dengan ekspresi tidak bersalah)
Loh, kenapa dia di sini? - Kenapa dia ada di sini? (dengan ekspresi terkejut)
  • Kata informatif, untuk memastikan / menekankan suatu hal.
Begitu lho caranya. - Begitulah caranya.
Nanti kamu kedinginan loh. - Nanti kamu akan kedinginan (kalau tidak menggunakan jaket, misalnya).
Aku mau ikut lho. - Aku mau ikut, tahu tidak?.
Ingat loh kalau besok libur. - Tolong diingat-ingat kalau besok libur.
Jangan bermain api lho, nanti terbakar. - Ingat, jangan bermain api atau nanti akan terbakar.
  • Berdiri sendiri: menyatakan keheranan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata
Lho???
Nih/ ni
  • Kependekan dari 'ini'.
Nih balon yang kamu minta. - Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu minta.
Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan.
(I)ni orang benar-benar tidak bisa dinasehati - Orang ini benar-benar tidak bisa dinasehati
  • Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan diri sendiri).
Cape, nih. - Saya sudah lelah. (dengan ekspresi lelah)
Saya sibuk, nih. - Saya baru sibuk, maaf. (dengan ekspresi menolak tawaran secara halus)
Sudah siang, nih. - Sekarang sudah siang. Ayo lekas ...
  • Untuk memberi penekanan pada subjek orang pertama
Saya nih yang tahu jawabannya. -  Hanya saya yang tahu jawabannya.
Aku nih sebenarnya anak konglomerat. - Aku ini sebenarnya anak konglomerat.
  • Berdiri sendiri: memberikan/menyerahkan sesuatu kepada orang lain
Nih.
Lihat partikel "tuh/ tu".
Sih
  • Karena ...
Dia serakah sih. - Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh)
Kamu sih datangnya terlambat. - Karena kamu datang terlambat. (dengan ekspresi menyesal)
  • Digunakan tepat setelah sebuah kata tanya yang artinya kurang lebih "Sebenarnya ..."
Tadi dia bilang apa sih? - Sebenarnya apa yang dia katakan tadi?
Berapa sih harganya? -  Sebenarnya berapa harganya?
Apa sih yang dia mau? - Sebenarnya apa yang dia mau? (dengan ekspresi jengkel)
Maumu kapan sih? - Sebenarnya kapan yang kamu mau?
  • Membedakan seseorang dari sekumpulan orang.
Tetanggaku semuanya miskin, tapi orang itu sih kaya. - Orang itu lebih kaya daripada yang lain.
Aku sih tidak akan terjebak, kan aku sudah belajar banyak. - (Yang lain boleh terjebak,) Saya pasti tidak akan terjebak, sebab saya sudah belajar banyak.
  • Kata yang mengakhiri satu pernyataan sebelum memulai pernyataan yang bertentangan.
Mau sih, tapi ada syaratnya. - Saya mau tetapi ada syaratnya.
Saya bisa sih, cuma ada beberapa yang ragu-ragu. - Saya bisa tetapi ada beberapa yang saya masih ragu-ragu.
Itu saya sih, tapi saya tidak bermaksud melukainya. - Itu sebenarnya saya, tetapi saya tidak bermaksud melukainya.
Kalau aku sih tenang-tenang saja. - Kalau saya sekarang ini tenang-tenang saja.
Partikel ini tidak dapat dipakai di awal kalimat lengkap atau berdiri sendiri
Tuh/ tu
  • Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek
Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu.
Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.
  • Tergantung intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam ekspresi (umumnya tentang keadaan orang lain).
Kelihatannya dia sudah sembuh, tuh. - Lihat, nampaknya dia sudah sembuh.
Tuh, kamu lupa lagi kan? - Lihat, kamu lupa lagi bukan?
Ada yang mau, tuh. - Lihat, ada yang mau (barang tersebut).
  • Untuk memberi penekanan pada subjek orang kedua atau ketiga.
Dia tuh orangnya tidak tahu diuntung. - Dia sebenarnya orang yang tidak tahu berterima kasih.
Kalau jadi orang seperti Bapak camat tuh. - Jadilah seseorang seperti Bapak camat.
Kamu tuh terlalu baik. - Kamu orang yang terlalu baik.
  • Berdiri sendiri: menunjukkan sesuatu kepada orang lain
Tuh.
Ya
Ya di sini tidak selalu berarti persetujuan. Beberapa penggunaan partikel 'ya':
  • Kata tanya yang kurang lebih berarti "Apakah benar ...?"
Rapatnya mulai jam delapan ya? - Apakah benar rapatnya mulai jam delapan?
Kamu tadi pulang dulu ya? - Apakah benar tadi kamu pulang dulu?
  • Kalau bukan ini, ya itu
Kalau tidak mau, ya tidak masalah. - Kalau tidak mau tidak masalah.
Kalau mau, ya silakan. - Kalau mau silakan (ambil / ikut / beli / dll.)
  • Sebagai awal kalimat digunakan tepat setelah sebuah kalimat dengan nada bertanya.
Mahal? ya jangan beli. - Kalau mahal jangan dibeli.
Apa? (dengan ekspresi tidak percaya) Ya jangan mau dong. - Apa? Kalau begitu jangan mau.
Apa kamu bilang? Ya dilawan dong. - Apa kamu bilang? Tahu begitu seharusnya kamu melawan.
  • Berdiri sendiri: lawan kata 'tidak'; kependekan dari 'iya'; menyatakan persetujuan
Ya.
Yah
Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat atau berdiri sendiri.
Yah...
Yah, kamu sih - Ini karena kamu.
Yah, Indonesia kalah lagi - Indonesia kalah lagi (dengan ekspresi kecewa)
Yah, sudah selesai - Belum-belum sudah selesai.





§  Bahasa Alay
Ilustrasi
Alay…….jangan lebay plis
Alay kalo ngomong lebay
Dasar anak jablay
Pilihannya jijay
Alay orang bilang anak layangan
Kampungan gayanya sok sokan
Alay kalo ngomong lebay………..
……………………………………
Tentu Anda ingat lirik diatas, kan? Ya, itu adalah beberapa baris lirik dari lagu yang dibawakan Lolita, salah satu lagu yang cukup populer di telinga masyarakat Indonesia. “Anak Layangan”, sebuah judul yang cukup menarik untuk para penikmat musik, berbeda dan mudah diingat. Pertama kali mendengar, saya mengira lagu ini diperuntukkan bagi anak-anak yang menyukai permainan layang-layang. Ternyata dugaan itu terbalik 360 derajat dari kenyataannya. Pertanyaan pun menghinggapi pikiran. Apa yang sebenarnya ingin diungkapkan penulis lirik ini? Mata pun tertuju pada baris kalimat “Alay kalo ngomong lebay”. Mengapa penulis lirik ini mengatakan seperti itu? Dalam kalimat itu terdapat dua kata penekanan “ngomong” dan “lebay”. Kata “ngomong” adalah bahasa prokem bagi orang Jawa yang artinya mengatakan sesuatu. Ini tentunya erat kaitannya dengan bagaimana orang mengungkapkan idenya, bagaimana mereka mengkomunikasikan pikirannya kepada orang lain. Ide-ide dan pemikiran itu merupakan bagian dari wacana. Wacana merupakan istilah umum dari penggunaan bahasa. Dalam sebuah Modul Discourse Analysis, tertera jelas bahwa wacana berkaitan dengan penggunaan bahasa yang berbentuk lisan dan tulisan. Yang ingin saya tekankan dalam artikel ini bagaimana bahasa digunakan dalam bentuk tulisan. Bahasa yang dimaksud disini adalah bagaimana bahasa Indonesia digunakan dalam bahasa alay. Sedangkan kata “lebay” juga merupakan bahasa gaul ala orang Jawa, atau yang telah diadaptasi menjadi “lebe” dalam bahasa Melayu Kupang yang artinya berlebihan.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang bahasa alay dalam bahasa Indonesia. Marilah kita mengetahui terlebih dahulu, apa itu alay. Alay merupakan akronim dari anak layangan, alah lebay, atau anak kelayaban. Ini adalah sebuah istilah yang ditujukan bagi orang-orang yang suka bertindak berlebihan, termasuk bagaimana mereka berpose di depan kamera dengan menampilkan tampang sok imut mereka dan tak ketinggalan pula penggunaan tulisan bahasa Indonesia-nya. Akhir-akhir ini jumlah alay semakin meningkat, bertumbuh begitu cepat bak jamur di musim hujan. Remaja merupakan jumlah terbesar dari populasi alay, mengingat dalam usia-usia itu, orang sedang berada dalam tahap pencarian jati diri. Mereka gemar melakukan hal-hal baru, termasuk memodifikasi bahasa dengan menciptakan tulisan-tulisan baru dalam kata-kata bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia versi alay itu unik. Informasi yang saya himpun dari Wikipedia dan postingan di Facebook menyebutkan beberapa ciri kebahasaan alay terutama dalam aspek tulisan sangat berbeda dari bahasa Indonesia. Pertama, ketika mengetik sms mereka cenderung menggunakan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil dalam kata, seperti ” iYa nIe” ,”aBiS LAgI sIbUq siCh”. Penggunaan angka pun tak luput dari penulisan kata mereka. Contohnya dalam kata-kata, 9w 9ag 8i5a 5kr9. Entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mereka bahkan bertindak seolah-olah tidak mengenal alphabet dalam bahasa Indonesia, seolah-olah tidak mampu membedakan huruf dalam kata. Dengan seenaknya mereka menulis kata “juga” dengan “juja”, “sms” dengan “cmz” atau “xmx”. Alay juga mempunyai nama akun facebook dan twitter yang terlihat begitu sempurna dan lucu seperti” cii mUna imUtz” atau “MociMoCi alias jonny”. Kondisi inilah yang membuat banyak orang mengalami kesulitan dalam membaca tulisan mereka. Coba saja Anda baca tulisan ini “tyUs kmueh jNaN luEpa Mams eaaa?” Tidak mudah, itulah jawabannya.
Bahasa alay benar-benar meruntuhkan tembok- tembok peraturan tata bahasa Indonesia yang telah ditetapkan secara signifikan. Betapa tidak, sejak kapan ada aturan penggunaan kombinasi huruf  kapital dan huruf kecil dalam sebuah kata, yang dapat ditempatkan dimana saja, semau kita, di depan, di tengah ataupun di akhir kata. Prof.DR. Gorys Keraf, seorang ahli besar bahasa Indonesia dalam bukunya yang berjudul “Komposisi” mengungkapkan dengan tegas bagaimana huruf kapital digunakan yaitu huruf awal dalam sebuah kalimat,nama orang, tempat, bangsa, negara, organisasi, bahasa, bulan , hari, Tuhan, sifat-sifat Tuhan, judul buku, artikel, dan kata-kata yang mempunyai arti istimewah. Jadi, sangatlah jelas, penggunaan huruf kapital dan huruf kecil itu tidak dapat ditempatkan seenaknya seperti yang dilakukan alay. Kasus lain yang tak kalah menarik yaitu ketika alay membentuk kata dari gabungan huruf dan angka. Adakah aturan ini tercantum dalam tata bahasa Indonesia? Angka tentu saja tetaplah angka, tak mungkin menggabungkan diri dengan huruf membentuk kata, kecuali merupakan sebuah rumus kimia seperti H2O dan NH3. Tulisan alay benar-benar membingungkan.
Melihat begitu pesat mewabahnya trend tulisan alay di kalangan masyarakat Indonesia khususnya remaja, tentu saja mempengaruhi pemeliharaan bahasa Indonesia yang telah susah payah dirumuskan ahli-ahli bahasa Indonesia selama bertahun-tahun. Pertama alay menciptakan tata bahasa baru, mengindahkan tata bahasa Indonesia yang telah disusun. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu penggunaan huruf kapital? Bagaimana mungkin mereka menempatkan huruf kapital sekehendak hati? Apa benar mereka tidak tahu posisi yang tepat untuk huruf kapital dan huruf kecil? Beberapa pertanyaan refleksi yang perlu dijawab. Seperti yang tampak dalam contoh diatas,kata “iYa” seharusnya ditulis “Iya”, karena menurut tata bahasa Indonesia, huruf kapital harus digunakan pada huruf awal kata dalam sebuah kalimat. Tanpa dasar itu pun, ketika mengetik di HP, dengan sendirinya huruf awal kata pada akan berubah menjadi huruf kapital, demikian pula ketika mengetik di komputer.
Kedua, alay melupakan alphabet bahasa Indonesia? Bukannya melupakan, tetapi mengubahnya menurut versi mereka. Seperti pada huruf k mereka realisasikan dengan huruf ch dan q, dengan asumsi bahwa huruf-huruf tersebut memiliki kemiripan bunyi. Ada lagi huruf s mereka realisasikan dengan huruf x, c dan z seperti contoh di atas. Apa ada teori seperti itu? Sebuah Ilmu kesesatan.
Ketiga tulisan alay membingungkan. Mengapa membingungkan? Dengan begitu banyak rentetan variasi huruf yang begitu meriah dari bahasa Indonesia dalam kata, tentu saja memusingkan bagi orang yang membacanya dan inilah faktanya. Bagaimana membaca tulisan ini “tyUs kmueh jNaN luEpa Mams eaaa” ? Untuk membaca saja sulit, apalagi untuk dimengerti. Hal ini hanya menambah daftar masalah saja dengan kehadiran bahasa alay. Banyak yang mengeluh karena tidak dapat menangkap arti dari kata-kata seperti itu, tulisan yang hanya melelahkan mata. Tentulah lebih mudah menuliskan “trus kamu jangan lupa makan, ya?”. Mengapa mereka menyulitkan diri dan terjebak dalam tulisan aneh bin ajaib itu? Sensasi, apakah yang dicari? Padahal, salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. “Komunikasi itu tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain”(Gorys Keraf, 1974:4). Jadi, jika tulisan pun tak dapat dibaca, apalagi dimengerti, bagaimana komunikasi dapat terjadi.
Keempat alay kehilangan jati dirinya. Ada sebuah pepatah berbunyi “ Nama menunjukkan identitas orang”. Ini sangat bertolak belakang dengan alay. Mereka mempunyai nama yang aneh di twitter dan facebook yang ejaannya bahkan tak ditemukan dalam perbehendaraan kata bahasa Indonesia. Kehadiran jejaring sosial sesungguhnya sangat membantu orang berhubungan dengan orang-orang dari negara-negara lain di seluruh dunia, jadi alangkah baiknya menggunakan nama biasanya seperti Hartono, Sri, Tati, Devi dan nama lainnya. Nama merupakan realisasi dan wujud dari kehadiran bahasa Indonesia. Paling tidak ini membantu orang dari negara lain menebak dari negara mana kita berasal. Kita adalah orang Indonesia, itulah identitas kita. Apa yang terjadi jika kita memakai nama seperti “cii mUna imUtz”? Ini seperti kegelapan malam bagi orang dari negara lain tanpa cahaya sedikit pun untuk tahu darimana kita berasal.
Kelima alay berasal dari remaja. Pemakaian tulisan alay kebanyakan dibuat oleh remaja yang nota bene adalah generasi penerus bangsa. Jika mereka terus saja mempertahankan kebiasaan mereka, kedepannya tata bahasa Indonesia akan luntur dan pudar, karena masa depan bangsa dan negara ini adalah dalam tangan mereka.
Kehadiran bahasa alay sangat mengancam pemeliharaan bahasa Indonesia.Mengapa? Semua telah jelas. Tata bahasa,alphabet,pemahaman,dilanggar. Tak lupa pula identitas pun hilang akibat bahasa alay ini. Tak tanggung-tanggung masa depan bahasa Indonesia pun ikut terseret. Jika kita biarkan hal ini terus terjadi, dalam jangka waktu yang panjang, tak mengherankan lagi bila bahasa Indonesia akan mengalami deviasi. Banyak pelanggaran yang dilakukan, menyimpang dari aturan bahasa Indonesia. Apakah Anda ingin melihat dalam dokumen resmi dan tulisan ofisial lainnya, hanya tertulis bahasa alay, seperti kata “sibuk” tergantikan oleh kata “sibuq”? Tentu tidak, kan?
Melihat fakta-fakta diatas, solusi perlu dibuat untuk segera menyelesaikan persoalan kehadiran bahasa alay ini. Kampanye anti alay adalah cara terbaik. Kampanye dapat dilakukan dengan menyebarkan sms tentang ciri-ciri alay dan upaya menyelamatkan bahasa Indonesia, seperti sejauh yang saya amati. Beberapa teman facebook saya juga telah memosting tentang alay ini. Sejumlah blogging yang saya kunjungi pun tak ketinggalan membahas persoalan ini. Ternyata keresahan kehadiran bahasa alay ini juga disadari betul oleh musisi Indonesia. Lolita adalah salah satu penyanyi yang turut menyuarakan aspirasinya melalui lagu “Anak Layangan” yang mengkritik habis-habisan tentang mereka. Saya berharap pemerintah tanggap terhadap permasalahan ini. Jika dibiarkan akan menjadi permasalahan serius di masa mendatang, menghancurkan tata bahasa Indonesia. Iklan-iklan di media, seperti surat kabar dan televisi , anti alay dapat dilakukan. Bagaimana dengan kita, usaha apa yang dapat dilakukan? Kita dapat melakukan hal-hal sederhana seperti yang telah dilakukan orang lain, menyebarkan sms dan memosting di facebook anti alay. Setidaknya kita telah berusaha menyelamatkan bahasa Indonesia dari serbuan bahasa alay.

§  SOLUSI MENGATASI PERCAMPURAN BAHASA
Bayak sekali solusi yang saya ingin paparkan disini. Namun karena keterbatasan waktu, maka saya langsung paparkan solusi yang menurut saya inti dalam mengatasi hal ini.
Masalah utama yang kita hadapi dalam budaya pencampuran dua bahasa ini adalah masalah psikologi.
Remaja berpikir bahwa hal seperti itu adalah hal yang keren. Namun pada dasarnya jika kita cermati lebih dalam, bahasa yang seperti itu akan sangat merugikan jika terus dipakai. Karena bahasa yang seperti itu hanya akan bisa dipahami oleh orang tertentu saja. Missal orang atau teman yang sudah biasa memakai bahasa seperti itu. Apabila orang selain itu diajak berkomunikasi dengan bahasa seperti itu, apakah mereka akan paham? Tentu saja tidak akan paham karena itu bukanlah bahasa yang standar digunakan.
Maka, cara yang paling ampuh adalah memberikan pengertian kepada para
remaja bahwa berkomunikasi dengan bahasa seperti itu adalah sia-sia dan tidak berguna. Karena bukanlah bahasa standar. Sama saja sperti preman-preman yang biasa menggunakan bahasa-bahasa yang mereka buat.
Cara ampuh yang lain adalah dengan memunculkan budaya berbahasa indonesia yang sesuai, agar menjadi kebiasaan sehari – hari. Ini seperti yang dikatakan Pak Amir kepada pemerintah lewat tulisan beliau dalam menaggapi masalah yang terjadi di Indonesia, maka dengan budaya yang baik, pasti akan bisa terubah walaupun butuh waktu yang sagat lama.
J TUNGGU APA LAGI SELAMATKAN BAHASA KITA…










BAB III
Penutup

§  KESIMPULAN

1.      Suatu kesalahan jika diteruskan atau tidak ditangani dengan cepat akan berlanjut dan akan berubah menjadi budaya yang sangat kuat dan tidak mudah dirubah.
2.      Perlunya budaya yang baik sejak awal.
3.      Budaya berbahasa itu sangat cepat sekali perkembangannya.
4.      Faktor psikologi bias saja menjadi factor utama dalam bekomunikasi dan berbahasa.
5.      Erat kaitannya antara ilmu budaya, bahasa dan psikologi.
6.      Bisa dikatakan budaya pencampuran itu bukanlah budaya yang baik sesuai standar.

§  Kritik dan Saran
Agar dimasa yang akan datang bisa jauh lebih baik lagi, kita haruslebih banyak belajar dan terus melatih ilmu yang kita peroleh. Kami sadaridalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalamsegi penulisan maupun susunan kalimatnya. Maka dari itu, sangatlahdibutuhkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Agar penulisanmakalah dilain kesempatan bisa jauh lebih baik lagi. Pesan kami janganpernah berhenti untuk belajar, karena kunci kesuksesan adalah dengan carabelajar dan terus berusaha.














2 komentar:

Anaz mengatakan...

rferensinya mana

Anaz mengatakan...

rferensinya mana